Sunday, February 26, 2006

Belajar dari Afrika Selatan

"Experience without theory is blind, but theory without experience is
mere intellectual play. – Pengalaman tanpa teori itu buta, tetapi
sebuah teori tanpa pengalaman hanyalah merupakan drama intelektual."
– Immanuel Kant –

Selama 10 hari mengunjungi Afrika Selatan, saya mendapatkan
petualangan wisata yang sangat mengesankan. Sejak awal tatkala
menyusuri tempat-tempat wisata di negri itu, saya sudah terkagum-
kagum akan kerapian sarana dan infrastruktur kota-kotanya. Cape Town
dan Sun City misalnya, merupakan contoh tempat wisata disana yang
dilengkapi fasilitas berkelas internasional. Tidak heran jika Afrika
Selatan dikatakan sebagai negara paling maju diantara 30 negara-
negara bekas jajahan Perancis dan Inggris di benua Afrika.

Kemerdekaan dan kemajuan di negri Afrika Selatan saya kira tidak
lepas dari peran Nelson Rolihlahla Mandela, seorang pemimpin moral
dan politik. Dialah pria yang membaktikan hidupnya membela rakyat
tertindas akibat hukum rasialis, meskipun untuk itu ia dipenjarakan
lebih dari 25 tahun. Mandela merupakan referensi sebagai seorang
pejuang kemerdekaan hak asasi manusia dan persamaan ras.

Semangat Mandela merupakan ciri khas seorang pemimpin politik yang
paling mengesankan dan inspiratif di dunia. Ia pernah
mengatakan, "This age will die not as a result of some evil, but from
a lack of passion. – Sebuah kejayaan akan mudah hancur bukan
disebabkan oleh tindak negatif pihak lain. Kehancuran itu lebih
disebabkan oleh kurangnya semangat." Semangat juang Mandela mampu
mengkoyak tirani negara asing dan mengantarkan Afrika Selatan
mencapai kemerdekaan.

Ironisnya, di tengah kemerdekaan dan kemajuan di Afrika Selatan,
ternyata masih banyak bangsa kulit hitam yang hidup miskin atau
terjajah secara ekonomi. Mengapa mereka tidak mampu bercermin dari
semangat seorang Nelson Rolihlahla Mandela untuk memperbaiki keadaan
mereka? Padahal sebagai bangsa yang merdeka, tentu setiap warga
negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki kondisi
perekonomian dan berpacu dalam prestasi.

Berawal dari sanalah saya berpikir mungkin semangat untuk merubah
keadaan belum sepenuhnya mereka miliki. Karena semangat merupakan
modal utama mendapatkan kemajuan dan kesuksesan dalam bisnis dan
kehidupan. Sebagaimana Benjamin Disreali mengatakan, "Man is only
truly great when he acts from his passions. – Manusia akan mampu
mencapai kejayaan jika ia bekerja dengan penuh semangat."

Tanggung jawab pekerjaan dilakukan dengan semangat yang tinggi maka
akan terasa menyenangkan. Pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati
maka hasilnyapun akan memuaskan. Menurut Billy Mills, "Every passion
has its destiny. – Setiap semangat mengandung keberuntungan." Oleh
sebab itu kita harus memperhatikan tiga faktor penting yang dapat
menjamin semangat kita tetap tinggi hingga mencapai kemajuan dan
kesuksesan.

Faktor pertama adalah menciptakan tujuan yang spesifik. Tentu kita
akan jauh lebih bersemangat jika menjalankan sesuatu yang menjanjikan
hasil memuaskan. Bahkan kita akan rela menempuh pekerjaan yang sulit
sekalipun jika tujuannya jelas dan pasti menghasilkan. Brian Tracy
mengatakan, "Goals allow you to control the direction of change in
your favor. – Tujuan membuatmu mampu mengontrol arah perubahan, dan
menjalankannya sebagai sesuatu yang menyenangkan."

Sebagai contoh adalah pengalaman kami sewaktu bersafari wisata
melihat-lihat suaka margasatwa Pilanesberg di Afrika Selatan. Ada
sebuah mitos bahwa kami akan mendapatkan keberuntungan jika berhasil
bertemu dengan 5 jenis binatang (The Big 5)di taman hutan itu. Kami
aktif dan bersemangat menyusuri hutan meskipun dengan mobil bak
terbuka. Tetapi sebenarnya hal itu bukan disebabkan kami percaya akan
mitos tersebut. Semangat kami terdorong keinginan yang besar untuk
mendapatkan pengalaman petualangan wisata di hutan bebas dan terbuka
seperti di Afrika Selatan yang benar-benar alami dan mengesankan.

Hal kedua yang meningkatkan semangat kita agar berhasil mencapai
kemajuan adalah kemauan untuk terus mengembangkan diri. Mengembangkan
diri dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, misalnya dengan membaca
buku, mendengarkan kaset, mengikuti seminar, dan bergaul dengan orang-
orang yang sukses. Charlie Tremendous Jones mengatakan, "You will be
in five years the sum total of the books you read and the people you
are around. – Apa yang menentukan dirimu 5 tahun yang akan datang
merupakan cermin dari buku apa saja yang sudah telah kau baca dan
dengan siapa saja kau bergaul."

Nelson Mandela adalah sosok yang berpendidikan cukup tinggi.
Pengetahuannya tentang hukum dan politik juga sangat luas. Tetapi ia
terus bersemangat mengembangkan diri. Di pulau Robben, dimana Mandela
pernah dipenjarakan, ia merupakan pusat menimba ilmu pengetahuan bagi
narapidana politik lainnya. Bahkan mereka menganggap Mandela sebagai
sumber kekuatan dan semangat.

Seandainya saja bangsa kulit hitam yang miskin di Afrika Selatan itu
mau mengembangkan diri seperti yang dilakukan oleh Nelson Mandela,
mungkin tidak akan ada kehidupan yang sulit bagi mereka saat ini.
Karena kemampuan yang lebih baik akan membantu kita mencapai prestasi
baru, dan hal itu akan membuat kita lebih termotivasi untuk mencapai
kemajuan berikutnya. Jika kita mempunyai kemauan untuk terus
mengembangkan diri, itu artinya kita akan selalu bersemangat dan
tidak dapat berhenti mencapai kemajuan.

Faktor yang tidak kalah penting guna meningkatkan semangat dan
mencapai kemajuan adalah membuat anggaran keuangan dengan baik.
Berapapun penghasilan kita tidak akan berdampak positif jika tidak
diikuti dengan perencanaan dan penggunaan uang dengan bijaksana.
Sedikitnya sisihkan penghasilan tiap bulan untuk ditabung,
berinvestasi dan bersedekah masing-masing 10%. Dengan cara demikian
suatu ketika kita akan dapat merasakan kemajuan kondisi keuangan
sekaligus mampu mengembangkan peluang usaha dengan baik.

Semua orang mempunyai potensi yang sama besar untuk melaksanakan
ketiga faktor penting tersebut. Saya kira hanya upaya dan semangat
dalam diri kitalah yang paling menentukan apakah selamanya kita akan
hidup menderita dan terjajah atau tidak? Belajarlah dari kemajuan
maupun kesenjangan hidup masyarakat yang ada Afrika Selatan atau
dimanapun.*

Sumber: Belajar dari Afrika Selatan oleh Andrew Ho.

Saturday, February 25, 2006

LOW TRUST SOCIETY

Oleh: Rhenald Kasali


Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan
nilai akhir Mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang
mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak
Ada satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini
mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun
silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di Amerika Serikat.

Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account
di bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum, tanpa punya
buku cek, hidup di Amerika akan terasa sulit. Hampir semua transaksi
dilakukan melalui pos. Bayar listrik, telepon, air,tagihan kartu
kredit, beli buku, bayar pajak, kena tiket lalu lintas (tilang), sampai
bayar uang sekolah. Semuanya menggunakan cek. Tanpa cek, hidup di
Amerika kok rasanya susah sekali.

Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek,
ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil
saya karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba
menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya melakukannya kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan mengatakan itu bukan tanda tangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa?
"Itu urek-urek!"ujarnya sambil tersenyum. Sejak itu saya pun mulai
berlatih membuat tanda tangan baru, yaitu tanda tangan yang namanya
mudah teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki
dua jenis tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang
dikatakan urek-urek tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika. Kalau
Anda pernah hadir dalam seminar saya dan meminta saya menandatangani
buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti ingat bahwa saya selalu mengatakan itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca dan diidentifikasi. Ada juga pembaca yang minta
dua-duanya, dan ada kalanya saya pun meluluskannya. Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk urusan bank Dan menandatangani transkrip nilai mahasiswa.
Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan di sebelahnya yang baru dikenalnya mengenali nama mereka. Ternyata tak banyak di antara mereka yang dapat mengenali nama
orang dari tanda tangannya. Ketika ditanya mengapa mereka membuat tanda
tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor: "Biar tidak mudah
ditiru orang lain." Mengapa kita semua melakukan hal yang sama? Mudah
ditebak jawabnya.


Sejak kecil Kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru Kita agar
tidak mudah percaya pada orang lain. "Buatlah tanda tangan yang tidak
mudah ditiru agar jangan sampai dipalsukan orang lain." Kita menurutinya, dan tanpa kita sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita. "Trust," kata Francis
Fukuyama, adalah "the social virtues and the creation of prosperity." Rasa
percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk menciptakankemakmuran. Kalau
tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada bisnis. Bagaimana mungkin
kita berbinsis dengan orang yang tidak Kita percaya?Rasa percaya itu
pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan saudara. Makin
rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak pula kita
melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater, sesuku dan sebagainya
terlibat dalam bisnis kita. Kita makin menutup pintu bagi orang lain. Dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat
menjelaskan betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke
tanah air, setelah menyelesaikan program studi, saya pun melakukan
moving sale melego barang-barang yang nilai bukunya masih cukup tinggi.
Misalnya saja Ada sebuah dish washer (mesin pencuci piring) elektrik
yang usianya baru tiga tahun Dan nilainya masih cukup tinggi namun harus
dilepas dengan harga yang sangat murah. Pembelinya tentu saja masyarakat
komunitas tempat tinggal kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau
para mahasiswa asing yang dari mancanegara. Kalau calon pembelinya
datang dari negara-negara seperti Rusia, Yugoslavia, Ceko, Turki,
Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau negara-negara Afrika,
biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat. Mereka umumnya tidak
percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan harga yang
ditawarkan. Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu berjam-jam,
mengajukan pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang
ditawarkan. Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu
di pasar Senen atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat
diterka: tidak ada transaksi. Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya
berasal dari negara-negara yang barangkali dapat kita sebut sebagai high
trust society, seperti Amerika, Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang
rata-rata sudah lebih makmur hidupnya. Mereka cuma bertanya tiga hal:
mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa harganya. Kalau mereka
suka, mereka tidak menawar, langsung angkat. Dalam kepala mereka, kalau
barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera. Mereka percaya
bahwa orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan
ditangkap polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.

Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust
society? Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung
melakukan transaksi. Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari
lawan-lawan bisnis Anda. Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan
bisnis Anda di sini belum mengenal betul Anda. Kalau ada jalan pintas
yang dapat ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan
melalui orang-orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh lawan bisnis
Anda. Tanpa itu, Anda cuma melakukan upaya sia-sia. Saya merindukan,
kelak anak-anak kita akan membuat tanda tangan yang namanya dapat dibaca
oleh orang lain.
--------------

setelah membaca artikel ini, saya juga baru nyadar,
kita sangat sulit percaya pada orang lain?

jika ada rasa saling percaya, tidak perlu ada
perpecahan, tidak perlu ada baku hantam, bahkan tidak
perlu ada perang dan peluru yang terhamburkan...

satu hal yang saya garis bawahi dari artikel ini,
apa bener, masyarakat dari negara yang makmur itu juga
masayrakat yang high trust society???

masih banyak masyarakat indonesia yang hidup di
pedesaan ( malah yang terpencil, makannya cuma ketela)
tetapi sangat ramah dan tidak memiliki rasa curiga,
malah bisa langsung percaya pada orang asing, makanya
juga mereka (maaf) gampang banget dibodohi... atau
emang karena (maaf) mereka bodoh ya?? :-P
jadi inget iklan layanan sosial di televisi yang
berbunyi kalo ga salah "Perdagangan perempuan berawal
dari tipu daya"....